Tampilkan postingan dengan label .:wise story.kisah bijak:.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label .:wise story.kisah bijak:.. Tampilkan semua postingan

Kamis, Desember 13, 2007

--Kata - kata bijak--

"Berani menjadi yang pertama berbeda." (Ray Kroc:Pendiri McDonald's pada usia 52 tahun)

"Banyak hal tidak berubah;tetapi kita berubah." (Henry David Thoreau)

"Taburlah pemikiran maka anda akan menuai tindakan;
Taburlah tindakan dan anda akan menuai kebiasaan;
Taburlah kebiasaan dan anda akan menuai karakter;
Taburlah karakter dan anda akan menuai masa depan." (Ralph Waldo Emerson)

"Keberuntungan berpihak pada orang yang telah siap." (Louis Pasteur)

"Target adalah mimpi yang memiliki batas waktu." (Paul Hanna)

"Gelombang ombak adalah air pasang yang terendah." (Unknown)

"Kesuksesan tidak terjadi di luar dugaan. Kesuksesan terjadi melalui cara berpikir anda." (Robert Schuller)

"Satu-satunya hal yang lebih menarik dari semangat adalah tak punya semangat." (Unknown)

"Banyak orang gagal dalam hidup karena mereka menyerah saat hampir berhasil." (Thomas A. Edison)

"Tak seorang pun mampu mengecewakan anda kecuali anda sendiri yang mengizinkannya." (Paul Hanna)

"Saya mengerti Tuhan tidak akan memberi sesuatu melebihi kemampuan saya. Harapan saya hanyalah agar Ia tidak terlalu berlebihan memercayai saya." (Mother Teresa)

"Semakin sering seseorang meneriakkan kehebatan mereka, semakin kecil rasa percaya diri mereka." (Paul Hanna)

"Berilah seekor ikan kepada seseorang, dan anda telah memberinya lauk untuk hari itu. Ajarilah cara dia mendapatkan ikan, dan anda telah memberinya lauk untuk seumur hidupnya." (Pepatah Cina Kuno)

"Hidup itu aneh: bila anda menolak untuk menerima apapun kecuali yang terbaik, anda akan semakin sering mendapatkannya." (W. Somerset Maugham)

"Satu ton kesan berharga satu ton persepsi." (Unknown)

"Apa yang disemai akan dituai." (Unknown)

"Hanya orang biasa-biasa saja yang selalu unggul." (W. Somerset Maugham)


.:diolah dan disajikan kembali dari berbagai sumber:.

Kamis, Desember 06, 2007

Bergantung pada orang lain?

Jika merasa yakin kita bisa, lakukan saja. Seringkali hal-hal penting, kita gantungkan kepada orang lain. Padahal tanpa sadar kita dapat melakukannya lebih baik dari orang tersebut. Banyak alasan kenapa kita harus mulai percaya terhadap diri sendiri, meskipun tetap kita sosialisasi.
“Kesendirian” ini dalam arti pengambilan keputusan yang memaksa kita berpikir dan bertindak sendiri.

Sebuah contoh:
Si Miko pergi kuliah naik angkot, dia berangkat jam 5 pagi dari rumahnya. Padahal jam setengah 4 dia dah bangun terus sarapan. Setelahnya baru dia mandi trus
sholat subuh. Dari rumahnya ke KOPAJA (angkutan Jakarta) lumayan jauh. Pake lari-lari lah, BT nya sampe pangkalan, whuuuhh blom jalan mobilnya. Nunggu lama deh, “bang kapan berangkat?” Tanya Miko, “lagi Ngopi” Jawab kenek dengan santai. Dengan wajah setengah ganteng (BT maksudnya),” huuuuhhh gmana sih, mo duit ga sih?” (cemberut Miko dalam hati sambil bergumam).

Setelah para executive KOPaja selesai ngopi, akhirnya tiba saat yang ditunggu. Siap lepas landas. Ini dia klimaksnya, ---LELETNYA ITU LHO, AMPUUN DEH---. “Dengan kecepatan segini gw bakalan terlambat sampe kampus, mana ada ulangan Matematika Diskret lagi” dengungan dalam hati Miko. “Kalo aja ni Kopaja punya gw, gw supirin dan gw bawa sendiri dah” kata Miko lagi dalam hati.

Ternyata memang benar prediksi Miko, hehe…dia telat.

Sebuah contoh simple kalo kita terlalu bergantung sama sopir KOPAJA, eh salah bergantung sama orang lain.
Makanya lain kali ambil keputusan, Sini Bang, gw aja yang nyetir.Hehe….

..:Ambil keputusan jangan ragu dan bertanggung jawab.:..

Selasa, September 18, 2007

I k h l a s

Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia lima tahun. Pada suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket.
Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya.

Tapi... Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji:
Tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik.

Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya : "Ibu,bolehkah Anisa memiliki kalung ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi... " Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa.Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas.
Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten...

"Oke ... Anisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?"

Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya."Terimakasih..., Ibu"
Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya.Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau...

Setiap malam sebelum tidur, Ayah Anisa akan membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya "Anisa..., Anisa sayang ngga sama Ayah ?" "Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah !"
"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu..."
"Yah..., jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil "si Ratu" boneka kuda dari nenek... ! Itu kesayanganku juga"
"Ya sudahlah sayang,... ngga apa-apa !". Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.

Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi, "Anisa..., Anisa sayang nggak sih, sama Ayah ?"
"Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah ?".
"Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu."
"Jangan Ayah... Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini.. "
Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk kekamarnya, Anisa sedang duduk diatas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam.
Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. Dari matanya,mengalir bulir-bulir air mata membasahi pipinya...
"Ada apa Anisa, kenapa Anisa ?"

Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya " Kalau Ayah mau... ambillah kalung Anisa"

Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih... sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa...
"Anisa... ini untuk Anisa. Sama bukan ? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau"

Ya..., ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.

Demikian pula halnya dengan Allah S.W.T.. Terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa : Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan...

Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Allah mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik.